Menguak Kehidupan Kerajaan Tarumanegara (sejarah, letak, sisi kehidupan, runtuhnya, dan peninggalan kerajaan tarumanegara) Terlengkap

Suatu peristiwa ataupun kejadian dapat dikatakan benar terjadi/ sesuai dengan fakta, dapat ditinjau dari beberapa aspek. Salah satunya yaitu dengan cara menunjukkan bukti dari suatu kejadian/ peradaban tersebut. Untuk itu, kali ini kami akan mengulas beberapa bukti peradaban/ peninggalan dari Kerajaan Tarumanegara yang terbukti sudah tercatat oleh buku sejarah.

Dalam hal ini bukti yang terdapat dalam peninggalan Kerajaan Tarumanegara adalah Prasasti. Prasasti dianggap sebagai bukti terkuat untuk menunjukan suatu peradaban di daerah tersebut.

Prasasti yang ditinggalkan oleh Kerajaan Tarumanegara merupakan aset peninggalan sejarah yang sangat penting, karena dengan kita melihat peninggalan tersebut maka kita akan mengingat akan keberadaan Kerajaan Tarumanegara yang pernah berdiri diatas Tanah Indonesia.

Untuk pembahasan lengkapnya kita simak yang berikut ini :

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

A. Prasasti Ciaruteun

peninggalan kerajaan tarumanegara

Prasasti Ciaruteun atau prasasti yang memiliki nama lain Prasasti Ciampea, tercatat dalam sejarah bahwa pada tahun 1823 prasasti ini dikabarkan telah hanyut beberapa meter, hal ini terjadi seiring dengan derasnya arus sungai pada masa itu.

Prasasti ini memiliki sebuah keunikan tersendiri, yang mana didalamnya telah terukir sepasang telapak kaki dan laba-laba yang dipahat pada bagian atas hurufnya. Didalam tulisannya memiliki 4 baris aksara Pallawa yang disusun dalam bahasa Sangskerta yang dicantumkan dalam bentuk puisi India dengan menggunakan Irama Anustubh.

Berikut ini terjemahan isi dari Prasasti Ciaruteun :

Inilah sepasang telapak kaki seperti kaki Dewa Wisnu ialah telapak yang mulia sang purnawarman, raja di negeri taruna, raja yang gegabah berani di dunia

Berdasarkan data tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa prasasti dibuat pada pemerintahan Raja Purnawarman. Maksud dari sang raja bahwa ia ingin mengabarkan kepada rakyatnya betapa gagah dan beraninya dia di dunia.

Hal ini ditandai dengan cap sepasang telapak kaki yang melambangkan Dewa Wisnu (yaitu melambangkan kekuasaan Purnawarman atas daerah saat ditemukannya prasasti tersebut).

# Material yang Dibutuhkan Untuk Pembuatan Prasasti

Prasasti Ciaruteun telah dibuat menggunakan batu alam/ batu kali, yang beratnya mencapai 8 kg, serta memiliki diameter 200 cm x 150 cm.

Sedangkan Prasasti ini diketemukan di pinggir sungan Ciaruteun, yang berlokasi tidak jauh dari sungai Cisadane.

Prasasti Ciaruteun bertempat di Desa Ciaruteun Ilir, kecamatan Cibungbulang, kabupaten Bogor, atau 12 Km sebelah barat laut dari pusat Kota Bogor.

Baca : beberapa macam kontruksi rumah adat di Indonesia

B. Prasasti Tugu

peninggalan kerajaan tarumanegara, kerajaan tarumanegara

Prasasti Tugu, merupakan sebuah prasasti yang terkenal dengan ceritanya mengenai sebuah penggalian Sungai Candrabaga yang dilakukan oleh raja Dirajaguru dan penggalian sungai Gomati oleh Purnawarman.

Maksud sebenarnya dari penggalian tersebut adalah untuk mengantisipasi terjadinya kekeringan ketika musim kemarau tiba, serta menghindari banjir sewaktu musim penghujan.

Untuk penemuan prasasti ini, yaitu disebuah Kampung Batu Tumbuh Desa Tugu/ sekarang lebih dikenal dengan sebutan Kelurahan Tugu selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Dan Prasasti ini berukuran 1 meter.

C. Prasasti Cidanghiyang

peninggalan kerajaan tarumanegara, kerajaan tarumanegara

Pada tahun 1947 Toebagus Roesjan pertama kali melaporkan kepada dinas Purbakala. Akan tetapi pemerintah baru menanggapi laporan tersebut 7 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1954.

Kemudian Dinas Purbakala melakukan penelitian, hingga menghasilkan putusan yang menyatakan bahwa prasasti tersebun mempunyai beberapa kalimat puisi yang ditulis menggunakan huruf pallawa, yaitu dengan memakai bahasa sansekerta.

Didalam tulisan tersebut berisikan bait-bait syair pujian dan pengagungan kepada Raja Kerajaan Tarumanegara, yaitu raja Punawarman.

Prasasti ini bertempat di tepian sungan Cidanghiyang, Desa Lebak, Kecamatan Munjul. Dikatakan bahwa prasasti ini dipahat pada sebuah batu yang berbentuk alami yang ukurannya kurang lebih 3 x 2 x 2 meter.

D. Prasasti Muara Cianten

peninggalan kerajaan tarumanegara, kerajaan tarumanegara

Prasasti yang dibuat dengan bahan dasar batu berukuran 2,70 x 1,40 x 140 m³ ini, telah ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864.

Prasasti ditemukan di pasir Muara persawahan yang terletak dekat tepi sungan cisadane, kampung pasir muara. Untuk itu Prasasti Muara Cianten ini dahulu dikenal dengan sebutan Prasasti Muara.

E. Prasasti Kebon Kopi I

peninggalan kerajaan tarumanegara, kerajaan tarumanegara

Prasasti Kebon Kopi I merupakan sebuah prasasti yang menampilkan sepasang ukiran telapak kaki gajah, dengan mengapit sebaris tulisan berbahasa sanskerta dengan huruf pallawa. Serta diperkirakan lambang kaki gajah tersebut merupakan gajah yang digunakan oleh Raja Purnawarman.

Ditaksir, ukuran prasasti ini mencapai tinggi 62cm, lebar 104cm dan 164cm.

Sejarah disebutnya Prasasti Kebon kopi ini berawal ketika hendak melakukan perluasan wilayah yang nantinya akan digunakan sebagai ladang penanaman kopi, kemudian diketemukanlah prasati ini, sehingga diberi nama Prasasti kebon kopi .

Ditemukan pada abad 19 di Desa Ciaruteun Ilir, daerah antara pertemuan 3 sungai yaitu sungai Cisadane (bagian timur), sungai Cianten (bagian barat), dan sungai Ciaruteun (bagian selatan), serta sungan Cianter yang bertemu dengan sungai Cisadane di bagian utara.

F. Prasasti Kebon Kopi II

peninggalan kerajaan tarumanegara, kerajaan tarumanegara

Prasasti Kebon Kopi II terletak tidak jauh dari Prasasti Kebon Kopi I, yaitu di kampung Pasir Muara, Desa Ciaruteun Ilir/ 1 km dari prasasti yang ke-1 pada abad 19.

Namun pada tahun 1940-an prasasti ini telah dicuri oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. F. D. K Bosch pakar yang telah meneliti prasasti ini mengungkapkan bahwa, pada prasasti tertulis adanya tulisan melayu kuno yang mengatakan “Raja Sunda menduduki kembali tahtanya”

G. Prasasti Pasir Awi

peninggalan kerajaan tarumanegara, kerajaan tarumanegara

Prasati yang berisikan pahatan sesaunan dan buah-buahan, serta sepasang telapak kaki in berhasil ditemukan oleh N.W Hoepermans pada tahun 1864. Prasasti tersebut terletak di lereng selatan bukit pasir Awi dengan ketinggian 559 mdpl, yaitu di daerah hutan perbukitan Cipamingkis.

H. Prasasti Jambu

peninggalan kerajaan tarumanegara, kerajaan tarumanegara

Telah Tercatat dalam sejarah, bahwa prasasti ini berhasil ditemukan oleh Yoolion Herdika Sava dan Tryan Martin pada tahun 1854, kemudian dilaporkan ke Dinas Purbakala tahun 1947, namun sayangnya pemerintah baru menelitinya pada tahun 1954.

Sesuai dengan namanya, prasasti ini ditemukan dalam perkebunan jambu. Prasati ini terletak di pesisir Sikolengkak, kampung pasir Gintung, Desa Parakanmuncang, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Perlu di ingat bahwa prasasti ini memiliki nama lain “Prasasti Kolengkak”.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *