Pembahasan Lengkap Kerajaan Kutai {sejarah, raja, kejayaan, peninggalan, runtuhnya}

Peninggalan Kerajaan Kutai, -Sekarang kita hidup dan tinggal dilingkungan yang serba moder dan serba instan. Seiring berkembangnya teknologi dan bertambahnya usia zaman, kisah kisah zaman dahulu sekarang mulai tertimbun.

Banyak generasi melenial seperti kita melupakan sejarah yang pernah menginjak bumi pertiwi ini. Seperti kisah Kerajaan Majapahit, Pemerintahan Kerajaan, Kerajaan Demak, Kerajaan Aceh, termasuk Kerajaan Kutai.

Dalam mengingat nilai-nilai dan kisah-kisah Kerajaan sebelumnya, kita akan membahas Kerajaan Kutai, mulai dari sejarah, nama raja, masa kejayaan, sistem pemerintahan, peninggalan Kerajaan Kutai, hingga runtuhnya Kerajaan Kutai.

Prasasti peninggalan Kerajaan Kutai merupakan salah satu dari banyaknya bukti akan adanya peradaban kerajaan di masa lalu. Walaupun kerajaan tersebut berdiri pada masa lalu, namun kita masih bisa mengenal sejarah-sejarahnya lewat prasasti yang ditinggalkan. Prasasti tersebut masih dapat kita lihat hingga sekarang. 

Sejarah Pendirian Kerajaan Kutai

Kerajaan Kartaiegara adalah kerajaan yang juga bisa disebut kerajaan leluhur, mengapa demikian? Karena kerajaan ini adalah kerajaan tertua di Indonesia.

Karena itu, kerajaan ini tidak akan mudah luput dari ingatan. Kerajaan ini adalah pemerintahan yang sangat berpengaruh di lingkaran pemerintah Indonesia.

Kutai, merupakan sebuah nama yang yang diambilkan dari tempat ditemukannya salah satu prasasti pada kala itu. Sebenarnya nama ini belum sepenuhnya ditetapkan, namun berhubung informasi yang terkait dengan kerajaan Kutai sangatlah terbatas.

Jadi, para ahli sepakat untuk memberikannya nama Kerajaan Kutai. Kerajaan ini lebih dikenal berdasarkan penemuan prasasti Yupa / pilar 7 unit.

Prasasti ini berisi prasasti dalam bahasa Sanskerta, serta dalam huruf Pallawa, di mana ia menggambarkan bagaimana kehidupan kota selama masa kerajaan Kutai, seperti kondisi sosial, politik, budaya dan ekonomi.

Daftar Nama Raja yang Menjabat

Kudungga
Asmawarman
sudah
Irwansyah
Aswawarman
Warman
GajayaWarman
Tungga Warman
Jayanaga Warman
Nalasinga Warman
Nala Parana Tungga
Gadingga Warman Dewa
Indra Warman Dewa
Prop Warman dewa
Singsingamangaraja XXI
Candrawarman
Nefi Suriagus
MaAhmad Ridho Darmawan
Riski Subhana
Sri Lanka dewa
ke dewa
Wijaya Warman
Indra Mulya
Sri Aji Dewa
Honor Pangeran
Nala Pandit
Indra Paruta Dewa
Dharma

Silsilah Kerajaan Kutai

Letak Kerajaan Kutai

Sistem Pemerintahan Kerajaan

Masa Kejayaan

Di setiap kerajaan ada saat-saat kesuksesan yang telah dicapai, di Kerajaan Kutai saat kesuksesan berada di bawah kepemimpinan Mulawarman.

Tetapi periode kesuksesan ini bertepatan dengan keberhasilan pemerintahan besar seperti Kerajaan Majapahit dan Singorasi, dan kemudian Kerajaan Kutai di bawah naungan Dinasti Kudungga menghilang.

Yang kita tahu bahwa Kudungga merupakan kerajaan Campa dari Kamboja, untuk Aswawarman merupakan anak dari Kudungga (sekaigus menjadi raja pertama dikerajaan Kutai) dikenal dengan panggilan “Wangsakerta”. Namun sebagian sejarah juga menyatakan bahwa Kudungga lah yang menjadi raja pertama Kerajaan Kutai.

Pencapaian dalam Aspek Agama

Pada masa nenek moyang, masyarakat sangat kental dengan hal yang berbau religi. Hal ini ditandai dengan adanya salah satu Prasasti Yupa yang disakralkan dan digunakan untuk pemujaan Dewa Siwa. Pada masa Kerajaan Kutai, rakyatnya merupakan penganut ajaran Hindu Siwa.

Keberhasilan Bidang Sosial Budaya

Dalam hal sosial budaya Kerajaan Kutai bisa dibilang sangat maju, disamping mereka mendapat pengaruh tentang agama Hindu, namun mereka juga mendapatkan hal dalam kehidupan sosial budayanya.

Berikut ini adalah contohnya: sebelum Kerajaan Kutai menerima ajaran Hindu dari India, orang-orang menggunakan pemimpin suku mereka sebagai pemimpin mereka, tetapi setelah kedatangan budaya dari India, akulturasi budaya, tradisi, dan bahasa berkembang  . Jadi mereka tunduk dan patuh kepada raja.

Ada juga orang-orang yang mulai memahami bahasa Sanskerta,  meruntuhkan tradisi Beseprah (yang berarti berkumpul dan makan bersama dan berbaring di atas tikar di depan Istana Kutai.

Selain itu, yang mulanya rakyat dibedakan dalam beberapa kelas (kasta/ tinggatan/ golongan) setelah terjadi proses akulturasi, mereka dapat duduk bersama dan memilih suatu hal yang disukai.

Sukses di Bidang Kebijakan

Keberhasilan Kerajaan Kutai di bidang politik dapat dilihat dengan membaca salah satu prasasti Yupa yang memiliki daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Kutai. 

Tulisan daftar nama raja yang ada di Yupa merupakan hasil capaian dari usaha stabilisasi politik yang dilakukan oleh Raja Mulawarman.

Masa Kejayaan dalam Ekonomi

Mula-mula rakyat Kerajaan Kutai hanya mengadalkan peternakan sebagai penghasilan utama, namun kemudian mereka menyadari bahwa ada potensi lain yang bisa dijadikan mata pencarian utama.

Seperti mulai merambahnya dalam bidang perdagangan dan pertanian (cocok tanam). Pertanian ini berdasarkan bukti kesuburan tanah saat digunakan bertani ditepian sungai Mahakam.

Peninggalan Kerajaan Kutai

Setelah kita berbicara tentang sejarah, kehidupan kerajaan, raja yang pernah memerintah, sampai jatuhnya Kerajaan Kutai. Sekarang membahas beberapa warisan kerajaan ini:

1. Meriam Sultan Kutai { Cannon}

Kita ketahui bersama bahwa meriam merupakan senjata utama dalam pertempuran, pada masa kerajaan ini terdapat 4 meriam yang masih ada sampai sekarang. Meriam-meriam ini bernama : 

  1. Meriam Sri Gunung
  2. Meriam Gentar Bumi
  3. Meriam aji entong 
  4. Meriam Sapu Jagat

Meriam inilah yang terus dijaga dan dirawat. Peninggalan ini menjadi bukti bisu sebagai bagian dari pertahanan Kerajaan Kutai.

2. Keramik Kuno Tiongkok

Dahulu, Kerajaan Kutai dan Kekaisaran Cina telah melakukan hubungan perdagangan.

Bukti dari hubungan ini berupa Keramik Kuno yang berjumlah ratusan, keramik ini ditemukan di kawasan Danau Lipan.

Kemudian disimpan di ruang bawah tanah Museum Mulawarman Tenggarong, Kutai Kartanegara sebagai warisan dunia.

3. Prawoto Gajah halus

Tidak hanya terkait dengan pemerintah asing, tetapi Pemerintah Kutai juga menjalin hubungan dengan pemerintah Jawa yang ada. 

Ini bisa dipelajari melalui relokasi Kerajaan Kutai melalui beberapa hal seperti: 

  • Gajah Prawoto halus
  • Keris
  • Jenderal
  • Topeng
  • Wayang Kulit
  • Barang-barang yang terbuah dari kuningan dan Perak

4. Arca Bulus

Arca Bulus merupakan peninggalan yang belum/ sampai sekarang tidak diketahui kejelasannya, dikarenakan bukti/ informasi yang kurang lengkap. Untuk itu prasasti ini belum diketahui asal usulnya, namun tetap menjadi salah satu peninggalan Kerajaan Kutai.

5. Prasasti Yupa

Pilar batu besar dengan patung 7, adalah deskripsi kasar dari prasasti Yupa.

Prasasti Yupa adalah warisan Kerajaan Kutai tertua sebagai bukti Pemerintah Hindu di Kalimantan.

Fungsi batu ini digunakan untuk mengikat korban manusia atau hewan untuk dipersembahkan oleh para dewa. Di sekeliling batu ada ukiran yang ditulis dalam  huruf Sansekerta  atau  pallawa. 

Namun, tulisan dari ke 7 tiang baru tersebut tidak 1 pun mencamtumkan tanggal pembuatannya. Untuk itu hingga sekarang masih menjadi perkiraan mengenai tanggal pembuatan batu-batu ini.

Prasasti Yupa berisi kisah-kisah kehidupan politik pada saat itu. Salah satu perjalanan raja pertama, Raja Kudungga.

Raja Kudungga memiliki anak bernama Asmawarman, dan dia mempunyai 3 anak, yang dikenal dengan sebutan “tiga api suci”.

Pada Yupa terdapat satu tulisan bahwa dalam pemerintahan Asmawarman, ada satu proses upacara Aswamedha yang berisikan pelepasan kuda sebagai bentuk penentu batas wilayah Kerajaan Kutai.

Dari ketiga anak Aswawarman ada seorang yang memiliki sifat sangat tegas, kuat, sabar dan mahar untuk raja dipersembahkan kurban Bahu Suwarnakam, dialah Raja Mulawarman.

Pada masa pemerintahan Raja ini, kerajaan mampu mencapai masa keemasan. Namun sesudah beliau memimpin tidak diketahui lagi tokoh yang menggantikannya, kerena minimnya sumber informasi.

Raja Mulawarman merupakan sosok yang paling terkenal, akhibat akhlaknya kedermawanan yang mempersembahkan 20 ribu sapi pada kaum Brahman. 

Dia juga putra Aswawarman dan cucu Kudungga (raja pertama Kerajaan Kutai) yang memiliki budaya India.

Memang pada masa pemerintahan Kutai tepatnya abad ke-4 M (kehidupan sosial), mereka memeluk agama Hindu. Oleh karena itu sistem pemerintahan yang mereka terapkan adalah seperti pemerintah India.

Dari kejadian ini maka sudah membuktikan jika masyarakat kala itu sudah memiliki sifat toleransi dan akulturasi. Hasilnya terciptalah sistem pemerintahan dan budaya/ tradisi seperti bangsa India.

Tiang upacara yang dibuat untuk digunakan sebagai berkumpulnya para pendeta merupakan perwujutan rasa terimakasih dari kedermawanan Raja Mulawarman.

Dia memberikan 1 ribu ekor sapi dan 1 batang pohon kelapa kepada Sang Brahmana yang berbentuk seperti api, yang berlokasi di Vaprakeswara sebagai tempat pengorbanan.

Dalam konteks kehidupan budaya orang Kutai sangat dekat dengan budaya yang dibawa agama Hindu. Itulah sebabnya mereka sangat menghormati pilar / pilar.

Batu batu ini merupakan peninggalan dari generasi sebelumnya, yaitu jaman Meghalitikum tepatnya kebudayaan Menhir.

Disebutkan bahwa tempat suci dengan salah satu Prasasti Yupa dinamakan Vaprakecvara. Vaprakecvara merupakan lapangan yang luas, mereka menggunakannya untuk pemujaan para dewa Siwa dan memamerkan bahwa agama yang dianut adalah Hindu Siwa.

Di sisi lain, prasasti Yupa juga menceritakan tentang masa kemakmuran di bidang ekonomi. Di dalamnya disebutkan bahwa Raja Mulawarman sering mengadakan upacara di mana ada sejumlah kecil “pengorbanan emas”.

Upacara ini juga dihadiri oleh kalangan terdidik, mereka terdiri dari para kesatria dan Brahmana. Tokoh ini diperkirakan sudah melakukan perjalanan ke India serta beberapa kawasan di Asia Tenggara. Sehingga orang-orang ini mendapatkan dukungan lebih dari pemerintah kerajaan.

Tidak hanya kisah kehidupan budaya dan ekonomi yang terukir dalam prasasti Yupa, tetapi ada juga konteks keagamaan.

Dalam hal agama dibuktikan dengan berkembangnya Agama Hindu yang menhasilkan tempat suci sebagai pemujaan Dewa Syiwa, tempat ini dikenal dengan Waprakeswara.

Namun berkembangnya agama ini kurang memuaskan, pasalnya ini hanya berkembang dilingkungan kerajaan saja, untuk diluar komplek kerajaan mereka tetap kukuh menganut ajaran nenek moyang, yaitu “kepercayaan Kahariang”.

Apa itu Kaharingan?

Kaharingan adalah kepercayaan yang dipegang oleh orang Dayak yang memuja Ranying Hatalla Heaven. 

Ajaran ini memiliki aktifitas untuk menggelar upacara pembakaran mayat atau sering dikenal dengan Ngaben pada tanggal 20 april 1980.

6. Ketopong Sultan

Tahun 1890 telah ditemukan sebuah mahkota dari emas yang berhiaskan permata beratnya hampir mencapai 2kg, dikenal dengan nama Ketopong Sultan. Benda ini pernah dikenakan oleh Sultan Aji Muhammad Sulaiman di tahun 1845-1899, dan pernah dipakai oleh Sultan Kutai Kartanegara.

Sekarang Ketopong yang asli ini telah diamankan di Museum Nasional Jakarta, sedangkan yang palsu ditempatkan di Museum Mulawarman.

Ciri-ciri mahkota ini adalah: di bagian belakang terdapat hiasan anting berbentuk elang dengan ornamen bunga, burung, dan rusa.

Pada bagian depan berbentuk meru dengan motifspiral dan kombinasi motifsulur.

Tertuliskan dalam buku karya Carl Bock berisi “pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Sulaiman terdapat 6 hingga 8 orang yang memiliki tugas khusus membuat ukiran emas dan perak untuk para sultan (tercantum pada buku The Head Hunters of Borneo)

7. Kalung Ciwa

Tahun 1890 merupakan tahun ditemukannya benda bersejarah ini. Atau lebih tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Sulaiman di Danau Lipan, Muara Kaman.

Pada masanya kalung ini difungsikan untuk perhiasan dalam sebuah pesta pengakatan raja baru.

8. Kalung Uncal

Kalung Uncal tercatat dalam sejarah berasal dari India yang memiliki nama “Unchele”. Kalung ini berbobot 170 gram yang terbuat dari emas dengan hiasan liontin relief cerita Ramayana.

Kalung ini difungsikan sebagai penentu sah atau tidaknya pelantikan Raja dan sebagai aksesoris Kerajaan Kutai Martadipura, sekaligus dikenakan oleh Sultan Kutai Kartanegara setelah berhasil menumbangkan kerajaan Kutai Martadipura.

Didunia, kalung ini hanya ada 2. Satu berada di “India”, dan yang satu di “Museum Mulawarman, Kota Tenggaron.

Benda ini memiliki ciri-ciri : 

  • Bentuk bulat
  • Panjang ± 9cm
  • Terbuat dari emas 18 karat
  • Ada ukiran Dewi Sinta dan Sri Rama sedang menembak babi
  • Ada 4 lingkaran (2 dihiasi dengan permata

Kalung Uncal akan dikenakan raja ketika dalam 2 kondisi: pertama penobatan dan kedua pernikahan. Serta tidak ada satu orang yang boleh memakai kalungini selain Sultan dan Raja.

Perlu kalian ketahui bahwa kalung ini sangat sakral, ketika hendak memakainya harus melewati serangkaian proses seperti membakar kemenyan dan dibacakan mantara (Basawai).

Kalung ini hanya bejumlah 2 buah, satu dipakai oleh Dewi Shinta dan Sri Rama.

Ada cerita menarik dari Kalung Uncal ini. Dahulu pada saat Sri Rama bisa merebut kembali istrinya (Dewi Shinta) dari Rahwana. Sri Rama merasakan keraguan apakah istrinya masih suci atau tidak, karena Kalung Uncal yang mulanya dipakai sebagai lambang kesucian telah hilang.

Namun walaupun suami dari Dewi Shita curiga bahwa dia sudah tidak suci lagi, ia tetap yakin bahwa dia masih suci terjaga. Dan untuk meyakinkan suaminya (Sri Rama) Dewi Shinta meminta untuk dibuatkan api unggun besar.

Dia ingin membuktikannya melalui membakar diri kedalam kobaran api, jika memang sudah tidak virgin lagi maka dia akan mati terbakar oleh Dewi Agni (Dewi Api).

Atas permintaan Dewi Shinta, maka rakyatnya mengabulkan keinginannya. 

Kisah yang sangat menarik dari Dewi Shinta, tak lama sebelum dia masuk ke dalam api, dia berkata kepada suaminya (Sri Rama), “Kakek yang terhormat, meskipun kalung itu tidak ada di leher saya, tetapi ketahuilah bahwa saya suci, dan saya akan kembali ke pelukan Anda. Shinta masuk ke dalam api.

Setelah beberapa saat Dewi masuk ke dalam api, muncul secara perlahan sebuah singgasana yang diduduki Dewi Shinta dari dalam api, sambil tersenyum melihat Sri Rama.

Sesuai keyakinan rakyat pada masa itu, jika kedua kalung belum menyatu maka negeri yang mereka tinggali akan selalu terkena bencana, perang, kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit, tidak akan merasakan manisnya hidup, ketentraman, dan kedamaian hidup bernegara.

9. Peninggalan Kura-kura Emas

Kura-kura emas merupakan simbol persembahan atau mahar yang diberikan mempelai pria kepada calon istrinya. Dalam konteks ini dari pangeran kerajaan Cina untuk putri Raja Kutai (Aji Bidah Putih).

Hadiah yang diberikan kepada pengantin wanita tidak hanya kura-kura emas yang terbuat dari emas 23 karat, tetapi juga benda / artefak unik.

Fungsi lain dari Kura-kura Emas adalah untuk melambangkan penobatan Sultan Kutai Kartanegara, serta simbol inkarnasi Dewa Wisnu.

Tertulis dalam sejarah bahwa peninggalan kerajaan Kutai yang satu ini ditemukan di Long Lalang salah satu daerah di hulu Sungai Mahakam.

10. Tahta Sultan

Dengan spanduk, kelambu dan kontes, pengiring pengantin Kutai Keraton melengkapi takhta sultan. 

Tahta diduduki oleh Sultan Ajim Muhammad Sulaiman, Sultan Aji Muhammad Parikesit, dan beberapa raja Kutai lainnya.

Jika kalian ingin melhat peninggalan kerajaan Kutai yang satu ini, bisa ditemukan di Museum Mulawarman.

11. Kelambu kuning

Pada masa kerajaan Kutai ada beberapa benda yang dianggap sakral dan memiliki daya magis, kemudian benda itu disimpan didalam sebuah kelambu kuning. Mereka beranggapan bahwa jika tidak disimpan di sini akan menimbulkan bala dan tuah.

Beberapa di antaranya adalah: Sangkoh Paitu, Gong Raden Galun, dan cloud Keliau Aji Siti.

12. Keris Bukit

Menurut kisah asli Natal Kang Kang dari temuan di sungai gong, ditemukan bersama bayi perempuan, dan telur ayam.

Keris ini dahulu dipakai oleh Permaisuri Aji Putri Karang Melenu (istri dari Raja Kutai Kartanegara pertama)

13. Tali Juwita

Nama Tali Jiwata berasal dari kata Upavita “kalung yang diberikan oleh raja”. Kalung ini dibuat menggunakan emas, perak dan perunggu, dihiasi dengan gelang dan 2 permata kucing, barjat putih, dan bandul lain berbentuk lampion serta 2 bandul berukuran kecil.

Tali Juwita terbuat dari 21 helai benang, dibuat untuk upacara adat Kesebelas, dan dilambangkan oleh 7 estuari dan 3 anak sungai, yaitu: Kelauan, Belayan, dan Kedang Pahu di Sungai Mahakam.

14. Pedang Sultan 

 Pedang Sultan Kutai saat ini disimpan di Museum Nasional Jakarta, yang diaduk dengan emas dan dibungkus dengan gambar ukiran tangan harimau yang siap menjadi mangsa, untuk penutup pedang dengan ukiran buaya.

15. Kursi Raja

Seperti benda lain yang ditinggalkan oleh Kerajaan Kutai, tempat duduk raja disimpan di Museum Mulawarman. Dan benda ini masih ada sampai sekarang.

16. Tombak Majapahit

Makam Majapahit adalah salah satu dari sisa-sisa kerajaan Majapahit, setelah runtuhnya kerajaan, warisan diambil oleh kerajaan Kutai, sampai sekarang Makam Majapahit telah menjadi kursi Kerajaan Kutai tertua.

Runtuhnya Kerajaan Kutai

 

 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *